SEJARAH DAN WUJUD
KEBUDAYAAN
KERATON YOGYAKARTA
Oleh
EFRILIA TRI WAHYU UTAMI

SEKOLAH MENENGAH
ATAS MESUJI TIMUR
KECAMATAN MESUJI
TIMUR KABUPATEN MESUJI
TAHUN 2014
HALAMAN MOTTO
Perjalanan hidup adalah mencari jati diri
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan kehadiran Allah SWT, karena dengan rahmat dan
hidayah-Nya penulis penulis dapat menyelesaikan laporan observasi karya wisata
yang berjudul “ Sejarah dan Wujud Kebudayaan Keraton Yogyakarta”
Laporan
ini disusun berdasarkan data-data selama penulis melakukan observasi, laporan
ini dibuat untuk memenuhi syarat mengikuti Ujian Sekolah SMAN 1 Mesuji Timur.
Dengan
selesainya laporan ini, izinkan penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan
terimakasih kepada semua pihak yang telah memungkinkan terwujudnya laporan ini,
diantaranya:
1. Bapak Drs. Sudirman Simanjuntak selaku kepala SMAN
1 Mesuji Timur
2. Ibu
Sri Rahayu,S.Pd selaku guru pembimbing 1 dan Bapak M. Puji Asmoro guru
pembimbing II
3. Ibu
Linawati selaku guru mata pelajaran Bahasa Indonesia
4. Ibu
Arika Pratita W selaku wali kelas XII IPA
5. Kedua
Orang Tua dan rekan-rekan SMAN 1 Mesuji Timur
Penulis
menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. Mudah-mudahan
laporan ini akan bermanfaat bagi kita semua. Setidaknya untuk sekedar membuka
cakrawala tentang keraton yogyakarta
Penulis,
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... ii
HALAMAN MOTTO. ................................................................................... iii
KATA PENGANTAR ................................................................................... iv
DAFTAR ISI .................................................................................................. v
BAB I. PENDAHULUAN..................... ........................................................ 1
1.1 Latar Belakang................. ............................................................ 2
1.3 Rumusan Masalah..... ................................................................... 2
1.4 Pembatasan Masalah..... ............................................................... 2
1.5 Tujuan Observasi.......................................................................... 2
1.6 Manfaat Observasi ....................................................................... 2
BAB II. LANDASAN TEORI. ....................................................................... 3
2.1 Sejarah....................... ................................................................... 3
2.2 Kebudayaan ............. ................................................................... 3
2.3 Wujud Kebudayaan..... ................................................................. 3
2.4 Keraton...................... ................................................................... 4
2.5 Yogyakarta................ ................................................................... 4
2.6 Keraton Yogyakarta.. ................................................................... 4
BAB III. METODE OBSERVASI ............................. .................................. 5
3.1 Tempat dan Waktu Observasi ...................................................... 5
3.2 Subjek Observasi.......................................................................... 5
3.3 Instrumen Observasi..................................................................... 5
3.4 Prosedur Observasi.... ................................................................... 5
BAB IV. HASIL OBSERVASI........................ .............................................. 6
4.1 Sejarah Singkat Keraton Yogyakarta............................................ 6
4.2 Fungsi Keraton Yogyakarta.......................................................... 7
4.3 Wujud Budaya.............................................................................. 8
BAB V. PENUTUP................. ...................................................................... 12
5.1 Kesimpulan............... ................................................................... 12
5.2 Saran ......................... ................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 13
BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Dewasa ini kebudayaan daerah yang kita miliki sebagai kekayaan budaya
bangsa Indonesia hampir punah dan di tinggalkan oleh generasi muda kita Hampir
semua lapisan masyarakat lupa akan keberadaan kebudayaan daerah. Hal itu di
sebabkan oleh pengaruh budaya asing yang mudah di pelajari masuk kenegara kita
dan sangat jauh dari budaya ketimuran seperti budaya yang ada di Indonesia.
Daerah istimewa yogyakarta atau yang lebih dikenal dengan
nama jogja,merupakan kota yang terkenal dengan sejarah dan warisan budayanya. Yogyakarta
merupakan pusat kerajaan mataram,dan sampai saat ini masih ada keraton yang
masih berfungsi dalam arti sesungguhnya
Keraton Yogyakarta memiliki sejarah yang cukup panjang yang perlu
kita ketahui dan pelajari. Hal ini dikarenakan tidak sedikit dari kita yang
tidak atau kurang memahami dan mengetahui apa sajakah bentuk kebudayaan yang
ada di keraton yogyakarta bahkan sebagian orang beranggapan bahwa keraton tidak
lebih dari sekedar tempat tinggal Sri Sultan Hamengku Buwono.
Berdasarkan hal tersebut, maka karya tulis ini disusun
dengan harapan melalui karya tulis ini kita dapat mengetahui lebih dalam sejarah
dan kebudayaan yang ada di Keraton Yogyakarta. Memahami dan mempelajari serta
menerapkan sisi baiknya dalam kehidupan bermasyarakat.
1.2
Rumusan Masalah
a.
Bagaimana sejarah Keraton Yogyakarta?
b.
Apa fungsi Keraton
Yogyakarta?
c.
Wujud
kebudayaan Keraton Yogyakarta?
1.3
Pembatasan Masalah
Masalah yang dibatasi
oleh penulis dalam karya tulis ini adalah tentang sejarah singkat Keraton
Yogyakarta, fungsi berdirinya
keraton. Dan wujud kebudayaan yang ada didalamnya.
1.4
Tujuan Observasi
a.
Mendiskripsikan
sejarah Keraton Yogyakarta.
b.
Mendiskripsikan fungsi
Keraton Yogyakarta.
c.
Mengetahui
wujud kebudayaan Keraton Yogyakarta.
1.5
Manfaat Observasi
a.
Mengetahui sejarah
Keraton Yogyakarta.
b.
Mengetahui fungsi Keraton Yogyakarta.
c.
Menambah
pemahaman tentang wujud kebudayaan Keraton
Yogyakarta.
BAB II LANDASAN TEORI
2.1
Sejarah
a.
Sejarah
adalah peristiwa yang telah lalu dan benar-benar terjadi (shefer)
b.
Sejarah
merupakan rekaman keseluruhan tentang masa lampau kesustraan, hukum bangunan, pranata sosial,
agama, filsafat, pkoknya semua yang teringat dalam memori manusia (henry steele commanger)
2.2
Kebudayaan
a.
Kebudayaan
adalah sarana hasil karya, rasa dan cipta masyarakat(selo soemardjan dan soelaiman)
b.
Kebudayaan
adalah sesuatu yang akan memengaruhi sistem ide atau gagasan yang terdapat
dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan itu
bersifat abstrak(wikipedia)
2.3
Wujud kebudayaan
a.
Benda-benda
yang diciptakan manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa prilaku dan
benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola prilaku, bahasa, peralatan
hidup, organisme sosial, religi, seni dan lain-lain, yang kesemuanya ditunjukan
untuk membantumanusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat(wikipedia)
2.4
Keraton
a.
Keraton
adalah daerah tempat seorang penguasa (raja atau ratu) memerintah atau tempat
tinggalnya(wikipedia)
2.5
Yogyakarta
a.
Yogyakarta
adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak dibagian selatan Pulau Jawa
dan berbatasan dengan provinsi Jawa Tengah disebelah utara(wikipedia Bahasa Indonesia)
2.6
Keraton Yogyakarta
c.
Keraton
Yogyakarta adalah sebuah komplek yang besar yang dirancang dengan teliti
sebagai cerminan cosmologi jawa (wonderful)
BAB
III METODE OBSERVASI
3.1
Tempat dan Waktu
Observasi
Observasi dilaksanakan di
Keraton Yogyakarta pada tanggal
3.2
Subyek Observasi
Subyek Observasi adalah Keraton
Yokyakarta.
3.3
Instrumen Observasi
Instrumen observasi berupa data
tentang sejarah Keraton Yogyakarta dan wujud kebudayaannya
yang didapatkan dari hasil observasi/pengamatan secara interview dan media
internet.
3.4
Prosedur Observasi
Prosedur Observasi menggunakan langkah-langkah
sebagai berikut :
a.
Observasi
b.
Tanya jawab dengan komando Keraton Yogyakarta yang akan
dijadikan bahan penelitian
c.
Dokumentasi
Mengamati dan mengumpulkan berbagai foto-foto dan brosur
d.
Media internet
e.
Buku panduan
BAB
IV HASIL OBSERVASI
4.1
Sejarah Singkat Keraton
Yogyakarta
Keraton Yogyakarta atau yang sering
disebut dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat terletak di jantung Provinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Indonesia dan merupakan pertengahan antara
Laut Kidul dengan Gunung Merapi. Keraton
Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan atas dasar perjanjian Giyanti yang
ditandatangani oleh Sunan Pakubuwono III dan Pangeran Mangkubumi dipihak
lain serta Nicolas Harting pada tanggal 29 Rabiulakhir 1680 Jawa 13
Februari 1755. Perjanjian tersebut mengakhiri perang saudara antara
Pangeran Mangkubumi dengan Sunan Pakubuwono III. Menurut Perjanjian
Giyanti, wilayah Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua : Pangeran Mangkubumi
menjadi raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan gelar Sultan
Hamengkubuwono I Senopati Ing Alaga Ngabdurahman Sayidin Panatagama
Khalifatullah Ing Ngayogyakarta. Sementara sebagian wilayah lain tetap
dikuasai oleh Sri Susuhunan Pakubuwono III dengan Ibukota Kerajaan
Surakarta.
Adapun Raja-raja yang Berkuasa di Keraton Antara lain :
a.
Sri Sultan Hamengku Buwono I (GRM Sujono) pendiri sekaligus
memimpin pada tahun 1755-1792.
b.
Sri Sultan Hamengku Buwono II (GRM
Sundoro) memimpin pada tahun 1792-1812.
c.
Sri Sultan Hamengku Buwono III (GRM Surojo)
memimpin pada tahun 1812-1814.
d.
Sri Sultan Hamengku Buwono IV (GRM
Ibnu Djarot) memimpin pada tahun 1814-1823.
e.
Sri Sultan Hamengku Buwono V (GRM
Gathot Menol) memerintah pada tahun 1823-1855.
f.
Sri Sultan Hamengku Buwono VI (GRM
Mustojo) memerintah pada tahun 1855-1877.
g.
Sri Sultan Hamengku Buwono VII (GRM
Murtedjo) memerintah pada tahun 1877-1921.
h.
Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (GRM
Sudjadi) memerintah pada tahun 1921-1939
i.
Sri Sultan Hamengku Buwono IX (GRM
Dorojatun) memimpin pada tahun 1940-1988.
j.
Sri Sultan Hamengku Buwono X (GRM
Hardjuno Darpito) memimpin tahun 1989 hingga saat ini.
4.2
Fungsi Kraton Yogyakarta
Fungsi Kraton dapat
dikategorikan menjadi dua yaitu fungsi kraton pada masa sebelum kemerdekaan
Republik Indonesia dan pada masa kemerdekaan Republik Indonesia.
A.
Pada masa sebelum kemerdekaan Republik Indonesia
1.
Sebagai tempat tinggal raja dan keluarganya
2.
Sebagai pusat pemerintahan
3.
Sebagai pusat kebudayaan dan pengembangannya
B.
Pada masa kemerdekaan Republik Indonesia
1.
Sebagai obyek wisata dan pengembangan ilmu pengetahuan
2.
Sebagi Museum
Perjuangan Bangsa
4.3
Wujud Budaya
Kebudayaan
memiliki 3 wujud, yakni ide, perilaku, dan artefak. Ketiga wujud kebudayaan
tersebut tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat, dimana ide
menghasilkan perilaku atau tindakan dan karya manusia (artefak). Kemudian
ide-ide, tindakan dan karya menghasilkan benda-benda kebudayaan. Selain
memiliki 3 wujud, kebudayaan juga mempunyai 7 unsur universal, yaitu bahasa,
kesenian, religi, sistem teknologi, sistem sosial, sistem pengetahuan, dan
sistem mata pencaharian hidup.
Salah satu
benda-benda kebudayaan adalah bangunan tradisional, dalam hal ini kita ambil
kraton Yogyakarta, dimana bangunan tradisional kraton Yogyakarta dipandang
sebagai suatu identitas dari kebudayaan daerah maupun kebudayaan nasional,
karena pada bangunan kraton Yogyakarta terdapat ornamen-ornamen atau hiasan
yang ada dan menghiasi bangunan tersebut. Mengacu pada penjabaran 7 unsur
budaya universal, maka ornament tersebut dapat dikatakan sebagai perwujudan
budaya. Yaitu unsur kesenian, sistem teknologi, dan religi. Wujud kebudayaan
yang terdapat dalam kraton Yogyakarta jumlahnya hamper tidak bisa dihitung oleh
jari, oleh karena itu wujud budaya yang dipaparkan disini hanya sebatas
pemahaman dan pengetahuan penulis. Berikut adalah wujud kebudayaan yang
terdapat pada kraton Yogyakarta:
Menurut guide,
bangunan kraton Yogyakarta kurang lebih memiliki tujuh balai atau disebut
bangsal. Masing-masing bangsal dibatasi pintu masuk atau disebut regol. Keenam
regol adalah Regol Brojonolo, Sri Manganti, Danapratopo, Kemagangan,
Gadungmlati, dan Kemandungan. Kraton diapit dua alun-alun yaitu Alun-alun Utara
dan Alun-alun Selatan.
a.
Unsur-unsur
Kemanusiaan Secara Simbolik
1.
Kraton dan
hubungan manusia dengan keindahan
Banyak
ornamen-ornamen yang terdapat pada bangunan kraton Yogyakarta, hal ini
menunjukan bukti bahwa kraton Yogyakarta memiliki unsur simbolik tentang
keindahan yang ada pada dinding kraton dan bangunan kraton. Kemudian hubungan
lain antara manusia dengan keindahan terlihat pada keselarasan dan keteraturan
bangunan kraton. Tiap bangunan kraton mempunyai makna dan fungsi tersendiri.
Kaindahan juga Nampak pada alam yang mengelilingi kraton dimana dapat kita
lihat tata letak bangunan kraton yang terlihat sangat teratur. Kraton masih
konsisten untuk mengadakan upacara-upacara dan melaksanakan tradisi kebudayaan
Jawa, keindahan dari budaya Jawa dapat kita lihat tiap kali kraton mengadakan
kegiatan atau upacara kebudayaan. Bahasa yang dipergunakan dalam sebagian bangunan
kraton adalah karma inggil bagongan, hal ini menunjukan keindahan masyarakat
dalam hal berbahsa. Selain itu busana yang dikenakan oleh masyarakat lingkungan
kraton juga melambangkan nilai keindahan tersendiri.
2.
Kraton dan
hubungan manusia dengan keadilan
Dalam
hubungannya dengan keadilan, pada zaman dahulu kraton menerapkan sistem
pengasingan atau pengusiran bagi masyarakat atau seseorang yang dianggap
melakukan kegiatan kejahatan, dengan cara diusir dari depan gapura pangurakan.
Hal ini memperlihatkan keadilan kraton dalam hal menjaga dan memberikan
kenyamanan pada setiap anggota masyarakat. Dewasa kini, keadilan tersebut dapat
kita lihat dalam kehidupan keseharian dilingkungan kraton Yogyakarta yakni
masyarakat bebas untuk mencari dan memperoleh panghasilan dari jasa yang mereka
berikan dilingkungan kraton, adanya penjual makanan, tukang parker, tukang
becak, pemandu wisata dan lain-lain memperlihatkan bahwa kraton memberikan
kebebasan dan keadilan pada masyarakat untuk memperoleh uang atau mendapatkan
pekerjaannya.
3.
Kraton dan
hubungan manusia dengan pandangan hidup
Unsur-unsur
kemanusiaan yang terdapat dalam Kraton Yogyakarta dalam hubungannya dengan
pandangan hidup antara lain, bila kita memasuki area kraton Yogyakarta, sudah
menjadi keharusan bagi kita untuk menjaga tingkah laku, berbuat bertutur dan
bertindak sopan, hal tersebut merupakan salah satu tindakan kebajikan yang
merupakan salah satu wujud dari pandangan hidup. Masyarakat lingkungan kraton
menjunjung tinggi dan menghormati keluarga kraton, hal ini dikarenakan mereka
memiliki ikatan kuat dalam hal batin mereka dan pandangan hidup mereka berupa
ideologi bahwa Sultan adalah wali Tuhan yang diturunkan kebumi, jadi sudah
selayaknya mereka menghormati. Dalam kraton memiliki norma-norma yang masih
dijaga dan dilaksanakan, norma-norma tersebut merupakan hasil dari pandangan
hidup mereka mengenai hubungan antar manusia dalam dunia.
4.
Kraton dan
hubungan manusia dengan tanggung jawab
Manusia di
dalam hidupnya disamping sebagai makhluk Tuhan, makhluk individu, juga
merupakan makhluk sosial. Di mana dalam kehidupannya di bebani tanggung jawab,
mempunyai hak dan kewajiiban, dituntut pengabdian dan pengorbanan. Unsur
kemanusiaan yang terdapat dalam kraton sebagai lambang hubungan manusia dengan
tanggung jawabnya, terlihat dari adanya masjid gede disekitar alun-alun utara,
hal ini melambangkan bagaimana tanggung jawab kita pada sang pencipta. Setiap
masyarakat kraton menjaga dan melestarikan kebudayaan mereka, hal ini merupakan
bentuk tanggung jawab terhadap bangsa dan Negara yang diwujudkan dalam bentuk
melestarikan budaya Jawa yang ada dalam kraton. Masyarakat dilingkungan kraton
sebagian ada yang menggantungkan hidupnya dari kraton, hal ini merupakan salah
satu wujud hubungan kraton dengan manusia dalam hal tanggung jawab pada diri
sendiri yaitu untuk memperoleh makan.
BAB V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
a.
Keraton dibangun pada tahun 1756 oleh
Sri Sultan Hamengku Buwono I. Setelah melalui perjuangan panjang 1747-1755 yang
berakhir dengan perjanjian giyanti.
b.
Keraton yogyakarta memiliki warisan
budaya berupa benda-benda yang mempunyai fungsi dan memiliki unsur kemanusiaan
secara simbolik
5.2
Saran
Berdasarkan hasil observasi diatas saran penulis
adalah Kraton Yogyakarta harus dilestarikan oleh semua
orang khususnya warga Yogjakarta itu sendiri, karena Kraton Yogyakarta merupakan warisan
kebudayaan Nasional yang masih bertahan dalam mempertahankan fungsinya hingga
saat ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Heryanto, Fredy,.
2010. Mengenal Karaton Ngayokyakarta
Hadiningrat. Yogyakarta: Warna Mediasindo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar