Rabu, 15 Oktober 2014

Sejarah dan Wujud Kebudayaan Keraton Yogyakarta



SEJARAH DAN WUJUD KEBUDAYAAN
KERATON YOGYAKARTA







Oleh
EFRILIA TRI WAHYU UTAMI













SEKOLAH MENENGAH ATAS MESUJI TIMUR
KECAMATAN MESUJI TIMUR KABUPATEN MESUJI

TAHUN 2014





HALAMAN MOTTO
Perjalanan hidup adalah mencari jati diri
















KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadiran Allah SWT, karena dengan rahmat dan hidayah-Nya penulis penulis dapat menyelesaikan laporan observasi karya wisata yang berjudul “ Sejarah dan Wujud Kebudayaan Keraton Yogyakarta”
Laporan ini disusun berdasarkan data-data selama penulis melakukan observasi, laporan ini dibuat untuk memenuhi syarat mengikuti Ujian Sekolah SMAN 1 Mesuji Timur.
Dengan selesainya laporan ini, izinkan penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah memungkinkan terwujudnya laporan ini, diantaranya:
1.      Bapak  Drs. Sudirman Simanjuntak selaku kepala SMAN 1 Mesuji Timur
2.      Ibu Sri Rahayu,S.Pd selaku guru pembimbing 1 dan Bapak M. Puji Asmoro guru pembimbing II
3.      Ibu Linawati selaku guru mata pelajaran Bahasa Indonesia
4.      Ibu Arika Pratita W selaku wali kelas XII IPA
5.      Kedua Orang Tua dan rekan-rekan SMAN 1 Mesuji Timur
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. Mudah-mudahan laporan ini akan bermanfaat bagi kita semua. Setidaknya untuk sekedar membuka cakrawala tentang keraton yogyakarta

                                                                                                Penulis,

 
DAFTAR ISI



HALAMAN JUDUL .....................................................................................        i
HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................       ii
HALAMAN MOTTO. ...................................................................................      iii
KATA PENGANTAR ...................................................................................      iv
DAFTAR ISI ..................................................................................................       v
BAB I. PENDAHULUAN..................... ........................................................      1
            1.1 Latar Belakang................. ............................................................       2
            1.3 Rumusan Masalah..... ...................................................................       2
            1.4 Pembatasan Masalah..... ...............................................................       2
            1.5 Tujuan Observasi..........................................................................       2
            1.6 Manfaat Observasi .......................................................................       2
BAB II. LANDASAN TEORI. .......................................................................     3
            2.1 Sejarah....................... ...................................................................       3
            2.2 Kebudayaan ............. ...................................................................       3
            2.3 Wujud Kebudayaan..... .................................................................       3
            2.4 Keraton...................... ...................................................................       4
            2.5 Yogyakarta................ ...................................................................       4
            2.6 Keraton Yogyakarta.. ...................................................................       4
BAB III. METODE OBSERVASI ............................. ..................................      5
            3.1 Tempat dan Waktu Observasi ......................................................       5
            3.2 Subjek Observasi..........................................................................       5
            3.3 Instrumen Observasi.....................................................................       5
            3.4 Prosedur Observasi.... ...................................................................       5
BAB IV. HASIL OBSERVASI........................ ..............................................     6
            4.1 Sejarah Singkat Keraton Yogyakarta............................................      6
            4.2 Fungsi Keraton Yogyakarta..........................................................       7
            4.3 Wujud Budaya..............................................................................       8

BAB V. PENUTUP................. ......................................................................     12  
            5.1 Kesimpulan............... ...................................................................     12
            5.2 Saran ......................... ...................................................................     12
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................     13





BAB I PENDAHULUAN
1.1           Latar Belakang Masalah
Dewasa ini kebudayaan daerah yang kita miliki sebagai kekayaan budaya bangsa Indonesia hampir punah dan di tinggalkan oleh generasi muda kita Hampir semua lapisan masyarakat lupa akan keberadaan kebudayaan daerah. Hal itu di sebabkan oleh pengaruh budaya asing yang mudah di pelajari masuk kenegara kita dan sangat jauh dari budaya ketimuran seperti budaya yang ada di Indonesia. Daerah istimewa yogyakarta atau yang lebih dikenal dengan nama jogja,merupakan kota yang terkenal dengan sejarah dan warisan budayanya. Yogyakarta merupakan pusat kerajaan mataram,dan sampai saat ini masih ada keraton yang masih berfungsi dalam arti sesungguhnya
Keraton Yogyakarta  memiliki sejarah yang cukup panjang yang perlu kita ketahui dan pelajari. Hal ini dikarenakan tidak sedikit dari kita yang tidak atau kurang memahami dan mengetahui apa sajakah bentuk kebudayaan yang ada di keraton yogyakarta bahkan sebagian orang beranggapan bahwa keraton tidak lebih dari sekedar tempat tinggal Sri Sultan Hamengku Buwono.
Berdasarkan hal tersebut, maka karya tulis ini disusun dengan harapan melalui karya tulis ini kita dapat mengetahui lebih dalam sejarah dan kebudayaan yang ada di Keraton Yogyakarta. Memahami dan mempelajari serta menerapkan sisi baiknya dalam kehidupan bermasyarakat.



1.2           Rumusan Masalah
a.         Bagaimana  sejarah Keraton Yogyakarta?
b.         Apa fungsi Keraton Yogyakarta?
c.         Wujud kebudayaan Keraton Yogyakarta?

1.3           Pembatasan Masalah
Masalah yang dibatasi oleh penulis dalam karya tulis ini adalah tentang sejarah singkat Keraton Yogyakarta, fungsi berdirinya keraton. Dan wujud kebudayaan yang ada didalamnya.

1.4              Tujuan Observasi
a.       Mendiskripsikan sejarah Keraton Yogyakarta.
b.      Mendiskripsikan fungsi Keraton Yogyakarta.
c.       Mengetahui wujud kebudayaan Keraton Yogyakarta.


1.5              Manfaat Observasi
a.         Mengetahui sejarah Keraton Yogyakarta.
            b.         Mengetahui fungsi Keraton Yogyakarta.
            c.         Menambah pemahaman tentang wujud kebudayaan Keraton     
                   Yogyakarta.








BAB II LANDASAN TEORI
2.1         Sejarah
a.        Sejarah adalah peristiwa yang telah lalu dan benar-benar terjadi (shefer)
b.         Sejarah merupakan rekaman keseluruhan tentang masa lampau   kesustraan, hukum bangunan, pranata sosial, agama, filsafat, pkoknya semua yang teringat dalam memori manusia (henry steele commanger)

2.2              Kebudayaan
a.         Kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa dan cipta masyarakat(selo soemardjan dan soelaiman)
b.         Kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan itu bersifat abstrak(wikipedia)

2.3              Wujud kebudayaan
a.         Benda-benda yang diciptakan manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa prilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola prilaku, bahasa, peralatan hidup, organisme sosial, religi, seni dan lain-lain, yang kesemuanya ditunjukan untuk membantumanusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat(wikipedia)

2.4              Keraton
a.         Keraton adalah daerah tempat seorang penguasa (raja atau ratu) memerintah atau tempat tinggalnya(wikipedia)

2.5              Yogyakarta
a.         Yogyakarta adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak dibagian selatan Pulau Jawa dan berbatasan dengan provinsi Jawa Tengah disebelah utara(wikipedia Bahasa Indonesia)
2.6              Keraton Yogyakarta
c.         Keraton Yogyakarta adalah sebuah komplek yang besar yang dirancang dengan teliti sebagai cerminan cosmologi jawa (wonderful)

























BAB III METODE OBSERVASI
3.1         Tempat dan Waktu Observasi
Observasi dilaksanakan di Keraton Yogyakarta pada tanggal
3.2         Subyek Observasi
Subyek Observasi adalah Keraton Yokyakarta.
3.3         Instrumen Observasi
Instrumen observasi berupa data tentang sejarah        Keraton Yogyakarta dan wujud kebudayaannya yang didapatkan dari hasil observasi/pengamatan secara interview dan media internet.

3.4         Prosedur Observasi
Prosedur Observasi menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :
a.              Observasi
b.             Tanya jawab dengan komando Keraton Yogyakarta yang akan dijadikan bahan penelitian
c.              Dokumentasi
Mengamati dan mengumpulkan berbagai foto-foto dan brosur
d.             Media internet
e.              Buku panduan





BAB IV HASIL OBSERVASI
4.1         Sejarah Singkat Keraton Yogyakarta
Keraton Yogyakarta atau yang sering disebut dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat terletak di jantung Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Indonesia dan merupakan pertengahan antara Laut Kidul dengan Gunung Merapi. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan atas dasar perjanjian Giyanti yang ditandatangani oleh Sunan Pakubuwono III dan Pangeran Mangkubumi dipihak lain serta Nicolas Harting pada tanggal 29 Rabiulakhir 1680 Jawa 13 Februari 1755. Perjanjian tersebut mengakhiri perang saudara antara Pangeran Mangkubumi dengan Sunan Pakubuwono III. Menurut Perjanjian Giyanti, wilayah Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua : Pangeran Mangkubumi menjadi raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan gelar Sultan Hamengkubuwono I Senopati Ing Alaga Ngabdurahman Sayidin Panatagama Khalifatullah Ing Ngayogyakarta. Sementara sebagian wilayah lain tetap dikuasai oleh Sri Susuhunan Pakubuwono III dengan Ibukota Kerajaan Surakarta.
Adapun Raja-raja yang Berkuasa di Keraton Antara lain :
a.              Sri Sultan Hamengku Buwono I (GRM Sujono) pendiri sekaligus memimpin pada tahun 1755-1792.
b.              Sri Sultan Hamengku Buwono II (GRM Sundoro) memimpin pada tahun 1792-1812.
c.              Sri Sultan Hamengku Buwono III (GRM Surojo) memimpin pada tahun 1812-1814.
d.             Sri Sultan Hamengku Buwono IV (GRM Ibnu Djarot) memimpin pada tahun 1814-1823.
e.              Sri Sultan Hamengku Buwono V (GRM Gathot Menol) memerintah pada tahun 1823-1855.
f.              Sri Sultan Hamengku Buwono VI (GRM Mustojo) memerintah pada tahun 1855-1877.
g.             Sri Sultan Hamengku Buwono VII (GRM Murtedjo) memerintah pada tahun 1877-1921.
h.             Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (GRM Sudjadi) memerintah pada tahun 1921-1939
i.               Sri Sultan Hamengku Buwono IX (GRM Dorojatun) memimpin pada tahun 1940-1988.
j.               Sri Sultan Hamengku Buwono X (GRM Hardjuno Darpito) memimpin tahun 1989 hingga saat ini.


4.2          Fungsi Kraton Yogyakarta
Fungsi Kraton dapat dikategorikan menjadi dua yaitu fungsi kraton pada masa sebelum kemerdekaan Republik Indonesia dan pada masa kemerdekaan Republik Indonesia.
A.                Pada masa sebelum kemerdekaan Republik Indonesia
1.         Sebagai tempat tinggal raja dan keluarganya
2.         Sebagai pusat pemerintahan
3.         Sebagai pusat kebudayaan dan pengembangannya
B.                Pada masa kemerdekaan Republik Indonesia
1.         Sebagai obyek wisata dan pengembangan ilmu pengetahuan
2.          Sebagi Museum Perjuangan Bangsa

4.3         Wujud Budaya
Kebudayaan memiliki 3 wujud, yakni ide, perilaku, dan artefak. Ketiga wujud kebudayaan tersebut tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat, dimana ide menghasilkan perilaku atau tindakan dan karya manusia (artefak). Kemudian ide-ide, tindakan dan karya menghasilkan benda-benda kebudayaan. Selain memiliki 3 wujud, kebudayaan juga mempunyai 7 unsur universal, yaitu bahasa, kesenian, religi, sistem teknologi, sistem sosial, sistem pengetahuan, dan sistem mata pencaharian hidup.
Salah satu benda-benda kebudayaan adalah bangunan tradisional, dalam hal ini kita ambil kraton Yogyakarta, dimana bangunan tradisional kraton Yogyakarta dipandang sebagai suatu identitas dari kebudayaan daerah maupun kebudayaan nasional, karena pada bangunan kraton Yogyakarta terdapat ornamen-ornamen atau hiasan yang ada dan menghiasi bangunan tersebut. Mengacu pada penjabaran 7 unsur budaya universal, maka ornament tersebut dapat dikatakan sebagai perwujudan budaya. Yaitu unsur kesenian, sistem teknologi, dan religi. Wujud kebudayaan yang terdapat dalam kraton Yogyakarta jumlahnya hamper tidak bisa dihitung oleh jari, oleh karena itu wujud budaya yang dipaparkan disini hanya sebatas pemahaman dan pengetahuan penulis. Berikut adalah wujud kebudayaan yang terdapat pada kraton Yogyakarta:
Menurut guide, bangunan kraton Yogyakarta kurang lebih memiliki tujuh balai atau disebut bangsal. Masing-masing bangsal dibatasi pintu masuk atau disebut regol. Keenam regol adalah Regol Brojonolo, Sri Manganti, Danapratopo, Kemagangan, Gadungmlati, dan Kemandungan. Kraton diapit dua alun-alun yaitu Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan.
a.              Unsur-unsur Kemanusiaan Secara Simbolik
1.             Kraton dan hubungan manusia dengan keindahan
Banyak ornamen-ornamen yang terdapat pada bangunan kraton Yogyakarta, hal ini menunjukan bukti bahwa kraton Yogyakarta memiliki unsur simbolik tentang keindahan yang ada pada dinding kraton dan bangunan kraton. Kemudian hubungan lain antara manusia dengan keindahan terlihat pada keselarasan dan keteraturan bangunan kraton. Tiap bangunan kraton mempunyai makna dan fungsi tersendiri. Kaindahan juga Nampak pada alam yang mengelilingi kraton dimana dapat kita lihat tata letak bangunan kraton yang terlihat sangat teratur. Kraton masih konsisten untuk mengadakan upacara-upacara dan melaksanakan tradisi kebudayaan Jawa, keindahan dari budaya Jawa dapat kita lihat tiap kali kraton mengadakan kegiatan atau upacara kebudayaan. Bahasa yang dipergunakan dalam sebagian bangunan kraton adalah karma inggil bagongan, hal ini menunjukan keindahan masyarakat dalam hal berbahsa. Selain itu busana yang dikenakan oleh masyarakat lingkungan kraton juga melambangkan nilai keindahan tersendiri.
2.             Kraton dan hubungan manusia dengan keadilan
Dalam hubungannya dengan keadilan, pada zaman dahulu kraton menerapkan sistem pengasingan atau pengusiran bagi masyarakat atau seseorang yang dianggap melakukan kegiatan kejahatan, dengan cara diusir dari depan gapura pangurakan. Hal ini memperlihatkan keadilan kraton dalam hal menjaga dan memberikan kenyamanan pada setiap anggota masyarakat. Dewasa kini, keadilan tersebut dapat kita lihat dalam kehidupan keseharian dilingkungan kraton Yogyakarta yakni masyarakat bebas untuk mencari dan memperoleh panghasilan dari jasa yang mereka berikan dilingkungan kraton, adanya penjual makanan, tukang parker, tukang becak, pemandu wisata dan lain-lain memperlihatkan bahwa kraton memberikan kebebasan dan keadilan pada masyarakat untuk memperoleh uang atau mendapatkan pekerjaannya.
3.             Kraton dan hubungan manusia dengan pandangan hidup
Unsur-unsur kemanusiaan yang terdapat dalam Kraton Yogyakarta dalam hubungannya dengan pandangan hidup antara lain, bila kita memasuki area kraton Yogyakarta, sudah menjadi keharusan bagi kita untuk menjaga tingkah laku, berbuat bertutur dan bertindak sopan, hal tersebut merupakan salah satu tindakan kebajikan yang merupakan salah satu wujud dari pandangan hidup. Masyarakat lingkungan kraton menjunjung tinggi dan menghormati keluarga kraton, hal ini dikarenakan mereka memiliki ikatan kuat dalam hal batin mereka dan pandangan hidup mereka berupa ideologi bahwa Sultan adalah wali Tuhan yang diturunkan kebumi, jadi sudah selayaknya mereka menghormati. Dalam kraton memiliki norma-norma yang masih dijaga dan dilaksanakan, norma-norma tersebut merupakan hasil dari pandangan hidup mereka mengenai hubungan antar manusia dalam dunia.
4.             Kraton dan hubungan manusia dengan tanggung jawab
Manusia di dalam hidupnya disamping sebagai makhluk Tuhan, makhluk individu, juga merupakan makhluk sosial. Di mana dalam kehidupannya di bebani tanggung jawab, mempunyai hak dan kewajiiban, dituntut pengabdian dan pengorbanan. Unsur kemanusiaan yang terdapat dalam kraton sebagai lambang hubungan manusia dengan tanggung jawabnya, terlihat dari adanya masjid gede disekitar alun-alun utara, hal ini melambangkan bagaimana tanggung jawab kita pada sang pencipta. Setiap masyarakat kraton menjaga dan melestarikan kebudayaan mereka, hal ini merupakan bentuk tanggung jawab terhadap bangsa dan Negara yang diwujudkan dalam bentuk melestarikan budaya Jawa yang ada dalam kraton. Masyarakat dilingkungan kraton sebagian ada yang menggantungkan hidupnya dari kraton, hal ini merupakan salah satu wujud hubungan kraton dengan manusia dalam hal tanggung jawab pada diri sendiri yaitu untuk memperoleh makan.








BAB V PENUTUP
5.1         Kesimpulan
a.         Keraton dibangun pada tahun 1756 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I. Setelah melalui perjuangan panjang 1747-1755 yang berakhir dengan perjanjian giyanti.
b.        Keraton yogyakarta memiliki warisan budaya berupa benda-benda yang mempunyai fungsi dan memiliki unsur kemanusiaan secara simbolik

5.2         Saran
Berdasarkan hasil observasi diatas saran penulis adalah Kraton Yogyakarta harus dilestarikan  oleh semua orang khususnya warga Yogjakarta itu sendiri, karena Kraton Yogyakarta merupakan warisan kebudayaan Nasional yang masih bertahan dalam mempertahankan fungsinya hingga saat ini.



DAFTAR PUSTAKA
Heryanto, Fredy,. 2010. Mengenal Karaton Ngayokyakarta Hadiningrat. Yogyakarta: Warna Mediasindo.